3 Game Android Yang Lagi Beken

Honkai Impact 3

Permainan game memang sangat sulit untuk pisahkan dari masyarakat, beberapa permainan ini bisa berupa benda fisik seperti kartu rame maupun virtual seperti game yang terdapat pada console dan komputer kita.

Semakin berkembangnya zaman semakin banyak para pengguna smartphone di Indonesia. Dengan harga smartphone yang semakin murah dan semakin bagus tidak mengherankan bahwa para developer game mulai melirip pasar Smartphone sebagai sebuah tempat untuk mengapai lebih banyak gamers.

Idle Poring

Nah dengan semakin berkembangnya pasar game di smartphone tentunya anda sendiri gemar memaikan berbagai game yang dapat anda download secara geratis dari Playstore maupun Apple Store.

Berikut adalah 3 game yang sedang ramai dimainkan :

Idle Poring adalah salah satu game Idle yang mengambil tema Ragnarok tentunya game yang satu ini sangat mudah dan santai untuk dimainkan. Game yang satu ini sangat tidak memakan waktu anda karena character anda akan bergerak sendiri. Game ini sangat cocok bagi kalian yang jarang mempunyai waktu luang untuk bermain.

Honkai Impact 3rd adalah game ketiga dari Honkai Impact series, untuk game yang satu ini anda perlu memaikan dan mengarahkan Character anda secara real time. Sebagai game yang baru saja dirilis tentunya banyak pemain dari seluruh dunia yang memaikan game yang satu ini dan akan sangat ramai tentunya.

Honkai Impact 3

Crystal of RE:Union, game yang satu ini sangat mirip dengan Travian. Kalian akan membangun sebuah negara secara real time dengan resources, yang dapat kalian dapatkan dengan menyerang negara orang lain atau harvest resources di luar negara anda. Perlu dicatat bahwa game yang satu ini mengandung element PvE dan PvP.

Nah bagaimana? apakah kalian tertarik untuk mencobanya? Silahkan download game-game luar biasa ini langsung dari Smartphone anda.

 

Banyak game yang tidak mendidik

game anak

Ngampus – Jika dulu kita hanya mengenal perilaku menyimpang anak-anak sebagai kenakalan yang masih dalam tahap wajar, belakangan ini di media massa banyak diberitakan kejahatan di masyarakat yang tidak hanya dilakukan oleh anggota masyarakat yang sudah dewasa, tetapi juga dilakukan oleh anak-anak.

Tidak sedikit anak-anak yang melakukan kekerasan yang berakibat fatal bahkan sampai meninggal dunia. Banyak juga berita mengenai pelecehan seksual dimana pelaku maupun korbannya masih anak-anak.

Timbul pertanyaan, darimana mereka belajar dan melihat hal-hal seperti itu? Bukankah anak-anak hanya akan melakukan apa yang mereka lihat sebelumnya?

Children see, children do. Begitu pepatah bilang.

Tidak bisa dipungkiri jika arus informasi dan teknologi yang begitu deras adalah salah satu penyebabnya.

Yuk Ngampus –¬†bullying yang terjadi di salah satu sekolah dasar di Bukittinggi misalnya. Di rekaman video yang banyak beredar luas terlihat beberapa siswa memakai seragam merah putih sibuk memukuli seorang siswi di sudut ruangan tanpa perlawanan.

Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan Tim Pemeriksaan Psikologi, terungkap bahwa perilaku kasar cenderung sadis yang dilakukan siswa-siswa tersebut akibat terpengaruh tayangan televisi dan games online yang bersifat kekerasan.

Banyak games yang banyak berisi kekerasan, para tokohnya sering menggunakan bahasa yang kasar (meski dalam bahasa asing), penuh pertumpahan darah, dan tak jarang juga isinya mengarah pada seks (tokoh yang ada berpakaian minim cenderung telanjang), memunculkan ketelanjangan, dan menampilkan secara terbuka penggunaan alkhohol dan minuman keras.

Kekerasan yang ada dalam games-games tersebut dibuat menjadi sesuatu yang menyenangkan dan memberikan efek ketagihan. Semakin sering melakukan kekerasan, maka poin yang diperoleh juga semakin banyak. Selain itu kebrutalan yang bisa dimainkan juga semakin banyak.

 

Menurut Pakar ilmu komunikasi, Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya “Psikologi Komunikasi”, orang bisa belajar berbahasa yang baik, atau bahkan yang buruk, karena mengamati setiap hari acara televisi yang ditampilkan oleh tokoh-tokoh yang mereka sukai.

Begitu juga dengan anak-anak pelaku kekerasan dan pelecehan seksual yang seringkali memainkan games-games bersifat kekerasan. Mereka meniru tindakan agresif seperti yang dilakukan oleh tokoh-tokoh yang ada di games tersebut.

Selain itu pengawasan yang lemah dari orang tua, yang banyak menganggap bahwa semua games yang tersedia di pasaran itu aman dan memang diperuntukkan bagi anak-anak.

Padahal tidak semua games aman untuk anak-anak. Di negara asalnya, games-games seperti ini biasanya diberi rate M (mature) atau untuk usia di atas 17 tahun. Ya, games-games ini  memang ditujukan untuk mereka yang sudah berusia 17 tahun. Dimana pada usia ini orang dianggap sudah bisa membedakan yang baik dan mana yang buruk, serta menyadari bahwa apa yang terjadi di games hanya fiksi belaka dan tidak patut dicontoh.